Sejak dulu, ada satu ruangan di rumahku.Tak ada satu pun yang berani masuk ke situ, termasuk aku. Berbeda dari ruangan lainnya, ruangan itu tidak terawat. Daun pintunya kusam. Kayu-kayunya berlubang dimakan rayap. Engselnya berkarat. Tak ada satu pun yang menarik dari ruangan itu. Selain sering kudengar suara-suara. Bisikan. Jeritan. Tangisan. Bahkan teriakan. Itu sebabnya, kupikir ruangan itu kerajaan hantu.
Baru belakangan ini aku tahu. Ruangan yang menjadi objek fantasiku itu keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ternyata.
***
Malam itu, kakiku gemetar. Sesuatu mendorongku melangkah ke sana tanpa bisa kucegah. Malam itu, ada suara lain selain bisikan, jeritan, tangisan, dan teriakan yang bertalu-talu.
Pelan-pelan, tangan kananku mendorong pelan pintu itu. Berat. Berderit. Berdebu. Aku melangkah masuk.
Ruangan itu gelap dan pengap. Hampir saja aku berbalik, ketika seseorang, dengan wajah yang tak kelihatan, memegang pundakku. ”Tak perlu takut, masuklah, ” katanya. ”Ini bagian dari rumahmu sendiri.”
Ada pintu lain di dalam ruangan itu. Ia membukanya. ”Hadiah istimewa yang kusiapkan untuk kamu setiap bersedia memasuki ruangan ini adalah pintu selanjutnya. Begitu seterusnya. Silakan”.
Aku tertegun. Dia membungkuk sekali lagi, dengan takzim. Merentangkan tangan kanannya isyarat masuk. Dari celah pintu yang terbuka, suara-suara terdengar semakin keras. Aku menggigil. Kali ini keringat dinginku mulai bercucuran. Jantungku berdegup dengan irama yang tak beraturan. Suara itu. Memanggilku. Menuntun langkahku. Membuka pintu selanjutnya. Pintu selanjutnya. Pintu selanjutnya. Keberanian membuka pintu itu selapis demi selapis mengikis ketakutanku, entah bagaimana caranya. Padahal suara yang terdengar makin keras. Makin jelas.
Dan…
Ada seorang perempuan terkulai lemah di sana. Sekujur tubuhnya penuh luka. Darah merembes dari setiap inci pori-porinya. Membentuk bopeng. Campuran antara nanah, darah, dan kulit mengering yang kembali terluka. Wajahnya bercucuran air mata.
”Ia menangis atas luka yang tak diberi kesempatan untuk sembuh”, tiba-tiba saja seseorang yang tak nampak wajahnya itu berdiri di sampingku.
”Kenapa ?”
”Karena kamu mengabaikan dia sekian lama, sejumlah usiamu,”
”Bagaimana bisa?
”Kamu mendengarnya. Setiap kali ia bersuara. Tapi apa yang kamu lakukan. Bahkan sesungguhnya ia tak perlu berteriak, menjerit, dan meronta.?”
Aku menelan ludah. Mencari-cari kata yang pas. Tapi nihillah yang ada.
”Mau tahu jawabnya? Karena kamu lebih sibuk dengan suara di luar sana. Karena kamu selalu menjadikan pikiranmu sebagai panglima”
”Bagaimana mungkin?,” aku menyergah.
Makhluk itu sontak mengerang, menggeliat kesakitan. Darah segar merembes dari kulitnya. Ia meraung panjang. Jatuh tersungkur. Debu-debu di lantai itu beterbangan. Napasnya semakin tersengal. Kini ia terbatuk-batuk, menangis, mengerang, panjang….
”Itulah yang terjadi padanya setiap kali pertanyaan menjadi reaksi pertama. Berpikir. Bukan mendengar. Menganalisa. Bukan merasakan. Menolak. Bukan menerima”
Perempuan itu mengerang lagi. Tangannya terulur, berusaha menggapai tanganku. Ia memaksa tubuhnya mendekati tubuhku. Memelukku. Hingga aku jatuh dan rebah ke tanah. Pandangan kami pun bertemu. Mengunci mataku.
”Pejamkan matamu”, orang yang wajahnya tak kelihatan itu kembali bersuara. ”Ijinkan apapun yang ia suarakan hadir pada dirimu. Ia terlalu menderita untuk setiap penyangkalan yang kamu lakukan, atas nama logika. Ia terlalu menderita untuk setiap cambuk, atas nama pembelajaran. Ia terlalu menderita untuk setiap luka, setiap kejujuran, demi menjadi seseorang yang kamu sebut… manusia”.
Untuk menjadi baik
Menjadi lebih baik
Selalu baik
Baik-baik saja
Untuk menjadi normal
Menjadi lebih normal
Selalu menjadi manusia ”normal”
Normal-normal saja
Untuk menjadi benar
Menjadi lebih benar
Selalu berjalan di jalan yang ”benar”
Untuk menjadi waras
Menjadi lebih waras
Selalu waras
Tetap dianggap ”waras”
Untuk menjadi pantas
Menjadi lebih pantas
Selalu pantas
….
….
….
Suara itu menyebutkan satu persatu. Terus menerus. Seperti tak habis-habis. Seolah ia membacanya dari kertas sepanjang gulungan tisu.
Napasku memburu. Aku menangis tersedu-sedu. Dan untuk pertama kalinya aku mengangguk. Aku menyerah. Pasrah.
Kubiarkan sejuta godam memukul kepalaku.
Kubiarkan tegangan listrik menyetrum tubuhku.
Kubiarkan dingin dan panas lebur jadi satu.
Kubiarkan air mataku mengalir, membanjir.
Kubiarkan nyeri itu kini merasukiku sampai sumsum.
Kubiarkan rasa tahu, inilah luka. Nyata.
Kubiarkan…
…
Sampai pada titik entah nyeri itu mulai luruh. Darah itu berhenti merembes. Luka itu mengering satu per satu… Tangan perempuan itu mulai menyambutku. Matanya mulai bercahaya. Ia memelukku penuh kasih.
Aku tak peduli tubuhnya masih penuh luka. Luka yang sama.
Aku tak peduli tubuhnya menguarkan anyir nanah. Nanah yang sama.
Kurapatkan pelukanku. Pelukan yang menjadikan kami satu. Pelukan yang kembali menyatukan kami. Darah yang sama. Tubuh yang sama. Jiwa yang sama. Raga yang sama.
Kubisikkan permohonanku di telinganya,
”Maaf.. untuk segala luka yang timbul karena mengharuskanmu jadi seperti yang saya inginkan. Seperti yang dunia inginkan. Maaf untuk segala darah yang mengalir karena berpikir tahu yang terbaik bagimu. Maaf untuk nanah yang membusuk karena berpikir cinta adalah definisi, kriteria, syarat dan harap.
Untuk…tidak mendengarmu saat kamu mengaduh dan mengeluh. Untuk …lebih banyak mendengar suara di luar sana. Untuk sesuatu yang saya sendiri tidak selalu tahu apa, namun saya sembah melebihi pencipta dunia. Maafkan saya.”
Ia tak menjawab. Keheningan itu meresmikan tangisan kami berdua.
…
Detik pertama setelah sekian lama ia berbisik:
”Terimakasih untuk hadir di sini. Terimakasih untuk bersedia mendengar. Terimakasih untuk menerima… apa adanya”
Kunikmati pelukan itu. Sampai pada titik aku puas. Berangsur-angsur pelukan kami melepas. Aku mundur. Berjalan berbalik menuju pintu. Kututup dengan hati-hati. Lalu menuju pintu selanjutnya. Kututup lagi. Berjalan ke lapis terluar.
Kutoleh sekilas ruangan itu. Daun pintunya masih kusam. Kayu-kayunya masih berlubang sisa dimakan rayap. Tapi engsel pintu itu tak lagi berkarat.Tak terdengar pula jeritan, tangisan, dan teriakan. Hanya bisikannya:
”Datanglah kapan pun.
Kapan pun kamu mau
Kapan pun kamu perlu”
…
*) Hadiah untuk diri sendiri. Untuk cinta yang menemukan sendiri jalannya: semesta baru.
7 Comments »
Filed under: Prita ngoceh, camilan