Slamet, kini turun ke jalan

Sebut saja laki-laki itu, Slamet. Perawakannya kecil, kulitnya sawo matang. Kuperhatikan, ada tiga benda selain pakaian yang selalu ia pakai ke mana-mana. Pertama peci. Kedua kaca mata hitam. Ketiga tas selempang. Kadang-kadang, ada juga benda keempat. Sebatang tongkat. Slamet bilang, keempat benda itu seperti sahabat. Yang meresmikan gelarnya sebagai tukang pijat.

Slamet tetanggaku. Rumah kami terpisah satu gang. Di kampung, namanya kondang sebagai pemijat panggilan. Konon,  pijatan Slamet lumayan enak.  Papaku pernah penasaran, dan ia setelah itu ia mengiyakan. Katanya, cengkeraman Slamet tepat ketemu urat. Tekanannya pas, tidak mengambang atau terlalu keras. Tapi ada juga yang bilang, itu kebetulan saja. Menurut beberapa tetangga, Slamet lebih sering ketiduran waktu menunaikan tugasnya. Dan membangunkan Slamet artinya upaya ekstra. Disenggol-senggol sering tidak mempan juga. Tetangga yang protes itu kapok untuk memanggilnya.

Jadi ingat, sekitar dua bulan yang lalu. Waktu itu aku pulang kerja. Sedang menunggu angkutan kota jurusan Pasar Minggu - Jagakarsa. Di dalam angkot yang aku berhentikan, ada Slamet. Dia duduk tenang, bersama empat sahabatnya. Peci. Tongkat. Tas selempang. Kaca mata hitam. Kulihat sekilas. Cuma ada satu ruang untuk penumpang. Dan itu di sebelah Slamet. Kuputuskan untuk naik. Lumayan ada teman pulang, satu jurusan.

Mulutku sudah hampir membuka. Tapi aku urung menyapa, begitu menyadari mulutnya dalam posisi setengah terbuka. Slamet tertidur, sedang pulas-pulasnya. Beberapa kali, kepalanya hampir tersandar di bahu kananku. Ia lalu tergagap dan menegakkan kepalanya buru-buru. Dan aku menghibur diri dengan maklum. Slamet mungkin sedang kecapekan. Aroma tubuhnya seperti orang yang habis kerja berat seharian. Campuran antara feromon, keringat kering yang asam, asap knalpot, dan debu berkepanjangan. Aku berpikir, mungkin dia sedang banyak orderan.

Kuceritakan pengalamanku bertemu Slamet, pada salah satu tetangga yang kapok memanggilnya. Pikiranku itu disanggah. Tetanggaku bilang, Slamet sering ketiduran bukan karena kecapekan. ”Tapi karena dia nggak bisa lihat cewek pakai rok span! Nggak bisa liat pemandangan-pemandangan! Nggak tau lagi di mana dan musti ngapain! Jadi mendingan tidur. Coba kalau dia bisa…,” katanya sambil tertawa. Aku tersenyum, sambil menelan ludah.

Apa iya?

Soal cewek pakai rok span aku percaya. Soal pemandangan mungkin juga. Tapi nggak tau lagi di mana dan musti ngapain, rasanya kok nggak. Soalnya, waktu kami bersama dalam satu angkutan kota kemarin itu, dia bisa bilang ”Kiri!!” sebelum supir memberi aba-aba. Dan aku yang malah ternganga. Dia terbangun tepat di tempat kami harus turun. Menyerahkan tiga lembar ribuan pada supir sambil berkata, ”Biasa.” Supir cerita, Slamet sekarang sering naik di sekitar Ampera. ”Berangkat siangan, pulang malam gitu dah…,” tambahnya.

Penasaranku tersimpan cukup lama. Hingga sore itu. Kusaksikan sosok laki-laki berbaju merah di kawasan Ampera. Dengan peci, kaca mata hitam, tas selempang, dan sebatang tongkat. Berjalan menyusuri antrian panjang. Mendekat setiap mobil yang merambat. Meraba-raba jendela dengan tangan kanannya. Dan menarikan kecrekan bekas tutup botol dengan tangan kirinya.

Dan ia pun sampai di jendelaku. Bersenandung entah apa. Yang terngiang di telingaku justru ucapannya berbulan-bulan lalu waktu memijat papaku,

Kadang-kadang, seminggu cuma dapat 50ribu.”

”Anak istri sering puasa karena nggak ada beras

Kutarik napas panjang untuk melegakan dadaku. Lima puluh meter ke depan, ada tiga Slamet lain di pinggir jalan. Mereka semua berkaca mata hitam. Mereka semua mengobrol –sesekali tertawa- sambil menatap lurus ke depan. Tak semua membawa tongkat, memang. Tapi mereka semua membawa kecrekan. **

Published in: on October 26, 2009 at 2:41 am Comments (0)

Produk gagal, menang lomba! ;)

Berbekal niat ikutan Lomba Kreasi Resep Bekal Sehat (Nakita-Tupperware, September 2009), pinginnya sih bikin lampu lalu lintas dari… nugget. Bahannya standar, pewarnanya tinggal pakai bayam merah untuk warna merah, wortel untuk warna kuning, dan bayam hijau untuk warnai hijau.

Errr… terpikir sih, untuk pakai bit merah n daun suji yang udah kondang jadi pewarna makanan itu. Tapi masalahnya gini, saya pingin bisa make bahan yang relatif murah en gampang didapat. Tujuannya, supaya resep ini aplikatif, bisa dipraktikin sama siapa aja yang mau. Sementara dari survei kecil-kecilan yg saya lakukan ke beberapa supermarket, bit merah kok nggak selalu tersedia ya. Lagipula harganya lumayan mahal. Setidaknya, di kantong saya :P
Begitulah, kenapa saya utamain pake bayam merah sama bayam ijo yang biasa kita jadiin sayur bening itu…

Singkat cerita,  adonan mentah nugget tiga warna sudah jadi. Merah, kuning, dan hijau. Warnanya pas, sesuai yang saya mau. Jadi dengan penuh rasa percaya diri, saya menutup kukusan dan meninggalkannya sambil senyum-senyum…

Tapi saat saya kembali…

Nugget yang saya bayangin bakalan jadi tiga warna sesuai adonan mentahnya itu, ternyata  jauh banget dari bayangan. Merahnya jadi kuning kusam. Ijonya jadi.. mirip daun yang udah busuk. Jelek banget. Dan yang perlu digaris bawahi, kalo dipaksain jadi  lampu lalu lintas pasti bakal bikin kekacauan di jalan, kan? :P
AB, Penasihat pribadi saya *peace, AB ;) * berusaha membesarkan hati  dengan saran, “Kalo gitu, judulnya tinggal diganti TIdak Tertib Lalu Lintas aja…”

Huh, saya menanggapinya sambil cemberut.

Selama beberapa menit, saya membuang waktu duduk di meja makan sambil memandangi nugget-nugget gagal itu. Pandangan nanar.

“Rasanya udah pas. Warna kuningnya udah pas. Tinggal merah sama ijonya aja nih…,” gumam saya sambil mikir, sekaligus penasaran.

Semenit.

Dua menit.

Nggak terasa tangan saya bergerak mengepal-ngepal nugget-nugget kuning -yang warnanya paling sesuai harapan- itu jadi bulatan-bulatan.

Di saat yang sama, saya melihat selada dan tomat, sisa lalap makan malam yang belum sempat saya bersekan. Tangan saya terus bergerak. Dan segalanya seperti ikut bergerak. Saya bongkar lemari es, lalu menemukan tusuk sate dan buncis. Tangan saya bergerak lagi.  Merebus buncis. Merangkai nugget kuning, selada, tomat, dan buncis dalam tusuk sate.  Ternyata… kok jadinya mirip bunga ya?????

Uhuyyyy!!

saya bersorak gembira. Ternyata lampu lalu lintas bisa berubah jadi bunga!

*Hihihihi… berhubung foto makanan jadi salah satu aspek yang dinilai, langsung deh ambil kamera dan nyoba motret sebisanya*

Taraaaaaa… dan  ini hasilnya!

(Special thanks buat AB, Ronggo (yang udah ngajarin trik motret), TRD (trik pake kertas putih untuk menstabilkan cahaya), n tentunya Irwan Zam Zam beserta kembaran kecilnya, Velma. Berkat bantuan kalian, resep “gagal” saya ini jadi dikirim dan…. MENANG!) :D
*****

Bungaku Yummy…!!!

Trik mudah bagi si sulit makan sayur. Idenya dari nugget, namun dimodifikasi dengan tambahan susu, wortel, dan keju, serta dibentuk menjadi tampilan menarik. Mirip jajanan khas anak sekolah, camilan ini juga bisa dinikmati bersama saus atau mayonais.

Karena dikemas dalam wadah warna-warni, dijamin si kecil akan membawanya ke sekolah penuh semangat. Ibu pun senang, karena bekal sehat ini lezat, serta gampang dibuat!

Kalau ingin lebih praktis, buat adonannya di akhir pekan. Masukkan dalam wadah, kemudian simpan dalam freezer. Di pagi hari, adonan beku tersebut tinggal dikukus sekitar 15 menit. Selamat menyiapkan bekal sehat!

Resep:

(Untuk 1 porsi)

Bahan:

100 g daging ayam giling

2 sdm tepung terigu

2 sdm susu bubuk plain (sesuaikan dengan kesukaan anak)

1 butir telur, kocok

2 siung bawang putih, haluskan

20 g bawang bombay, cincang halus

75 g wortel*, parut

50 g keju cheddar, parut kasar

½ sdt garam

¼ sdt merica bubuk

1 sdm minyak goreng, untuk mengoles wadah

Pelengkap:

10 buah tusuk sate, buang bagian yang runcing

5 buah buncis, buang pinggirnya, blansir, potong dua.

1 buah tomat, iris tipis

3 lembar daun selada, sobek sesuai selera

Cara membuat:

  1. Dalam mangkuk, masukkan semua bahan. Aduk sampai rata.
  2. Olesi wadah (pinggan tahan panas, wadah aluminium, atau loyang bentuk kotak ukuran kecil) dengan minyak goreng. Sementara itu, panaskan panci kukus.
  3. Masukkan adonan ke dalam wadah. Kukus sekitar 15 menit.
  4. Setelah matang, angkat, dinginkan.
  5. Potong dengan ketebalan 1,5 atau 2 cm. Cetak bentuk bintang menggunakan cetakan biskuit. Kumpulkan sisa cetakan, kepal-kepal menjadi bulatan berdiameter 3 cm (Bisa juga dibentuk sesuai selera menggunakan peralatan yang ada). Sisihkan.
  6. Membuat bunga:

Masukkan tusuk sate ke sepanjang badan buncis (sebagai batang). Di atasnya, tusukkan daun selada (sebagai daun), kemudian irisan tomat (sebagai kelopak).

Di urutan paling atas, tusukkan nugget bintang atau bulat. Tata di dalam wadah bekal.

TIP:

* wortel bisa diganti sayuran lain. Gunakan bit jika menginginkan warna merah, atau bayam hijau dengan tambahan daun suji untuk warna hijau.

(Resep, foto: Dyah Pratitasari).

Published in: on October 21, 2009 at 3:11 am Comments (6)

:’(

Tidak ada hal lain yang ingin kulakukan saat ini

kecuali

membenamkan diri

dalam pelukanmu,

Mama…

Published in: on September 2, 2009 at 7:53 pm Comments (1)

Aku juga mau punya buku, pake namaku!

“ini bacanya apa?”

“Ini tentang apa?”

“ini siapa yang gambar?”

“o… Kakak itu yang bikin cerita ya?”

“AKU JUGA MAU PUNYA BUKU, PAKE NAMAKU! Nanti fotonya pake fotoku. Gambarnya juga. Mm… cerita tentang apa ya, Ma? Aku mau belajar baca sama nulis ah.. biar bisa nulis buku!”

(Velma. Saat membaca buku kumpulan puisi anak “Bola Kecil Aisha”, Mizan. Senin malam, 24 Agustus 2009, sebelum tidur)

….

Bermimpilah yang tinggi, anakku.

Berdoalah. Akan kuusahakan asamu itu,

Insyaallah, terwujud.

Published in: on August 24, 2009 at 10:02 pm Comments (0)

Cinta, atau… Takut?

Sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu.

Waktu itu, saya masih TK. Dan Bu Yuni*, guru saya, sedang bercerita di depan kelas. Sambil terus mendongeng, ia menggambar di papan tulis hitam. Di satu sisinya, digambarkan seorang manusia, kecil ukurannya. ”Ini kita,” katanya. Dan di ujung satunya lagi, ia menggambar semacam taman. Lengkap dengan ayunan, jungkat-jungkit, kolam ikan, aneka makanan, bunga warna-warni, dan pepohonan yang buahnya, kata Bu Yuni, boleh dipetik sesuka hati.

Membentang menghubungkan kedua ujung itu, ia goreskan satu garis lurus panjang. Sebuah jembatan. ”Tapi jembatan ini beda dengan yang kita lewati sehari-hari, ”sambung Bu Yuni lagi.Yang ini dibuat dari satu helai rambut. Tepat di bawah garis yang Bu Yuni sebut jembatan tadi, dengan kapur merah, digambarnya jilatan-jilatan api.

Menurut Bu Yuni, kalau ingin sampai ke surga, kita harus bisa menyeberang jembatan. Saya dan beberapa teman berpandang-pandangan sejenak, lalu menelisik rambut sendiri. ”Cuma satu? kalau jatuh, langsung terbakar api? Wuiihh….”, pertanyaan yang menyembul di kepala itu cepat-cepat saya telan kembali, sambil bergidik ngeri.

Saya lupa siapa yang bertanya, atau mungkin malah tak ada, namun Bu Yuni bilang bahwa kami pasti bisa sampai ke surga, asal jadi anak yang baik. ”Tidak boleh bo…ho..ngggg, tidak boleh mencu…riiiii, menurut sama orang tu…aaaa…, rajin berdo…aaaaa…..”, begitulah kira-kira Bu Yuni, menyebutkan beberapa daftar kriteria anak baik, yang akan berhasil meniti jembatan tanpa terjungkal ke jurang api, karena dituntun oleh tangan Yang Maha Baik Hati.

Bernama Tuhan.

***

Seingat saya, itulah penjelasan mengenai Tuhan yang saya terima pertama kali, secara deskriptif. Tanpa bermaksud mendiskriditkan Bu Yuni, sejak saat itu pula, tanpa disadari otak saya mulai didiami pemahaman bahwa, ”Kalau ingin ditolong Tuhan dan masuk surga, saya harus jadi orang baik.”

Entah berapa lamanya, saya menjalani hari demi hari, berusaha memenuhi syarat -yang disebutkan Bu Yuni dan diamini oleh ibu-ibu serta bapak-bapak lain- tadi. Hingga tanpa saya sadari, perjalanan saya ingin menjadi ”orang baik dan ditolong Tuhan” tadi memasuki sebuah ranah. Wilayah. Yang segera disandangkan pada saya secara otomatis, lantaran lahir dari kedua orangtua yang tinggal di tempat yang sama. Bernama agama.

Selain tidak berbohong, tidak mencuri, menurut sama orangtua dan rajin berdoa, dalam pelajaran agama di sekolah dan les bertitel ibadah di sekitar rumah, syarat itu seolah-olah bertambah banyak. Hingga tanpa saya sadari (lagi), Tuhan dan agama bagi saya pun menjadi sesuatu yang absurd.

Meskipun begitu, saya memilih meneruskan perjalanan. Atas nama iman.

Dan seiring perjalanan, keabsurdan itu menguap, menjelma rutinitas serupa makan, minum, mandi, dan gosok gigi. Berjalan otomatis serupa malam dijelang pagi. Setiap hari. Selama ribuan hari.

Sampai suatu hari, di sebuah ruangan yang disebut rumah Tuhan, saya mendengar seorang bocah bertanya pada ibunya, ”Kenapa sih Ma, harus shalat?”. Dan ibunya menjawab dengan, ”Kalau nggak, Tuhan marah. Nanti kamu dimasukin ke neraka.”

Dug!

Tiba-tiba saja saya terjungkal. Langkah kecil saya dalam perjalanan itu terhenti.

”Kalau nggak, Tuhan marah”

”Kalau nggak, Tuhan marah”

”Kalau nggak, Tuhan marah”

Jawaban singkat Si Mama yang diucapkan datar itu membuat ingatan lama saya, tentang tergelincir dari jembatan yang terbuat dari sehelai rambut -lalu terjun bebas ke jurang api, menari-nari.

Saya menelan ludah. Pahit. Pertanyaan serupa pernah juga saya ajukan di masa lalu, pada beberapa orang yang disebut guru. Jawaban yang saya terima sama. Kalaupun berbeda, versinya serupa, ”Kalau tidak, kamu dosa”. Atau, ”Nanti dihukum dengan neraka”. Mempertanyakan aturan yang disebut kebenaran, akan dianggap tidak beriman. Mendebatnya berarti mengundang prahara. Dan mencoba melanggarnya, segera terbayang lagi dua kata. Dosa. Neraka.

Mengapa ibadah, yang katanya sarana untuk dekat dengan Tuhan, dalam kalimat semacam itu jadi terdengar seperti paksaan?

Dan disinilah, titik itu bermula. Titik yang menyembulkan satu pertanyaan besar: Ibadah kok dipaksa-paksa. Sebenarnya yang butuh itu siapa sih? Tuhan, atau manusia?

Kasihan Tuhan, pikir saya. Ia jadi tampak jauh, terasing, dan sulit didekati. Lebih dari itu, ia kok jadi.. terkesan gila disembah?

*Dear ‘Han… maaf kalau saya lancang* ;)

Namun sejujurnya, momen itu membuat saya memberanikan diri meninjau kembali konsep yang entah sejak kapan saya percayai. Tanpa mengecilkan arti iman –yang artinya ketetapan hati atau keteguhan batin*-, saya bertanya-tanya. Ketika saya berbuat ”baik” selama ini, itu karena memang ingin, atau…. mengejar pahala? Demi secarik tiket ke surga? Pun, ketika saya terpaksa berbuat baik, demi mengikuti syarat-syarat yang dipercaya sebagai kebenaran, namun hati ini meronta, masihkah surga menjadi jaminannya? Jadi, selama ini saya ”beribadah” dengan intensitas melebihi aturan minum obat dalam sehari, untuk alasan apa? Karena cinta, atau… takut?

Melintas kembali ingatan saya di masa lalu. Beruntungnya, kedua orangtua saya mengajarkan ritual beragama dengan cara yang damai dan cukup berkompromi. Kelas satu SD, saya “hanya” diwajibkan shalat satu waktu. Kelas dua, naik jadi dua kali. Hingga hitungan shalat wajib mengutuh di kelas lima. Puasa pun menjadi hal yang menyenangkan, karena Mama (alm) pintar memberi reward yang asyik-asyik kalau saya sukses melakukannya hingga azan maghrib tiba. Misalnya, boleh beli buku lebih banyak dari jatah, dijemput ke sekolah, atau dibuatkan makanan kesukaan. Meskipun sempat merasakan puasa untuk mendapat hadiah, lambat laun saya tahu juga kalau hadiah tadi bukan tujuan. Melainkan, sebuah penghargaan karena atas usaha saya berpuasa. Saya berkesimpulan demikian, karena ketika saya sakit dan kekeuh berpuasa, meskipun akhirnya tidak kuat, saya tetap mendapat hadiah. Sebaliknya, hadiah saya pernah gugur, karena saya mengaku puasa penuh padahal Mama tahu saya mencuri-curi meneguk air es sepulang sekolah. :p

Sekali waktu, saya nekat mengajukan pertanyaan pada Mama, ”Kenapa sih harus shalat?”. Mama terkejut. Bahasa tubuhnya menunjukkan ia tak siap dengan jawaban. Namun yang saya ingat, Mama menjawabnya dengan, ”Supaya Mbak Ita bisa ketemu Tuhan.”

Saya bertanya lagi, ”Apa Tuhan cuma bisa ditemui kalo kita shalat sama berdoa?”. Mama bilang, ”Nggak juga. Tapi dengan shalat dan berdoa, Mbak Ita punya kesempatan untuk ngobrol sepuas-puasnya, cerita apa aja, minta apa-aja, berduaan. Sama Tuhan.”

Sungguh jawaban yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Pada awalnya, saya menganggap Mama menjawab begitu karena keterbatasan ilmunya. Merasa tak puas, saya penasaran, dan tertantang, ”Seperti apa sih, ngobrol sama Tuhan? Memangnya Mama udah ngerasain? Wah, aku juga mau ah!”

Dan Mama mengijinkan saya memulai dengan banyak cara.

Dalam perjalanan saya saat ini, di titik belum seberapa yang saya pijak sekarang ini, saya terdiam. Terkenang. Menerawang. Bagi saya pribadi, pendekatan ”Tuhan” yang mengancam justru membuat saya ingin berontak dan melepaskan diri. Justru ketika dipercaya berproses secara alami, kok ternyata… saya merasakan “perjalanan” yang lebih indah. Konsep yang lebih bersahabat. Relasi yang menentramkan. Dan saya mulai kecanduan.

Tanpa bermaksud mengecilkan Bu Yuni dan “Bu Yuni-Bu Yuni” lain (saya yakin itu hanya cara yang tanpa disadari, sudah menjadi “tradisi”, diam-diam saya bermimpi,

Alangkah indahnya bila sejak dini, anak-anak di luar sana diperkenalkan dengan Tuhan yang siap memeluknya kapan saja. Ada kapan saja. Dan mereka diajak lebih peka membaca tanda semesta, mengenai kehadiranNya. Bukan gambaran tentang jilatan lidah api.

Alangkah indahnya kalau perkenalan dengan Tuhan itu dibuka dengan semacam lowongan. Kesempatan. Yang ditawarkan dengan ajakan. Bukan doktrin ancaman.

Alangkah indahnya bila hubungan Tuhan dan Manusia yang (katanya) bukanlah Tuan dan Hamba – melainkan kekasih- itu benar-benar menunjukkan otentisitasnya. Ibadah yang dilandasi cinta.

Cinta yang tidak terdefinisi. Cinta yang kebenarannya tidak diusung sebagai milik umum. Cinta yang tidak hanya bersumber dari pengetahuan. Cinta yang murni diperoleh dari perjalanan. Pengalaman pribadi.

Ah, tiba-tiba tubuh saya berdesir teringat Vel, malaikat centil saya, yang sedang senang-senangnya melantunkan doa sebelum tidur (bahkan dia pun ngotot membacanya sebelum makan dan sebelum minum! Hehehe..). Dia bertanya ”Kenapa mau bobo harus doa?”. Setelah sebisa mungkin menyingkirkan sejenak kosakata ”dosa” dan ”neraka”, kalimat ini adalah jawabannya: ”Sama seperti ade bilang I Love You dan cium Mama sebelum bobo, itu cara ade bilang sayang sama Tuhan juga sebelum bobo…”

Saya tidak tahu jawaban itu tepat atau tidak. Saya hanya sedang berusaha memperkenalkan konsep Tuhan sebagai ”sosok” yang damai dan penuh kasih sayang. Bukan Tuhan yang senang menghukum dan hanya sayang pada sebagian orang.

Deg-degan juga rasanya, mengingat dia mungkin juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya duga, di luar pengetahuan saya. Kelak, ketiba tiba waktunya Vel bertanya,”Apa Tuhan cuma bisa ditemui kalo kita shalat sama berdoa?”.

Semoga saya pun cukup legawa untuk menjawabnya dengan, ”TENTU SAJA TIDAK. Dia bisa kamu jumpai kapan saja, dimana saja, apa pun caranya. Sebagai muslim, shalat dan berdoa adalah salah satu kesempatan istimewa kita untuk berduaan sama Tuhan, curhat sepuas-puasnya, cerita apa aja, protes apa aja, minta apa-aja, nggak perlu ada rahasia.

Dan keistimewaan itu, menjadi lebih istimewa kalau kita bisa memaknai, memahami, menghargai, dan meresapi setiap kesempatan lain. Bahkan, yang tidak diistimewakan sekalipun. “

Semoga :)

(Karena) Pengetahuan itu mati. Pengalamanlah yang hidup (Osho).

PS. Terimakasih buat AB, yang turut menginspirasi ditulisnya entry ini.

***

* Guru sebenarnya, namun bukan nama sebenarnya.

**Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka. 1988

Published in: on August 20, 2009 at 3:11 am Comments (4)