The Interview With God

Just wanna share u this…

Open your heart. Free your spirit. Have a blessed moment.

Love, Prita

____________________________________________________________

I dreamed I had an interview with God.

So you would like to interview me?” God asked.

“If you have the time” I said.

God smiled. “My time is eternity.”
“What questions do you have in mind for me
?”

“What surprises you most about humankind?”

God answered…

That they get bored with childhood,
they rush to grow up, and then
long to be children again.”

“That they lose their health to make money…
and then lose their money to restore their health.”

“That by thinking anxiously about the future,
they forget the present,
such that they live in neither
the present nor the future.”

“That they live as if they will never die,
and die as though they had never lived.”

God’s hand took mine
and we were silent for a while.

And then I asked…

“As a parent, what are some of life’s lessons
you want your children to learn?”

“To learn they cannot make anyone
love them. All they can do
is let themselves be loved.”

“To learn that it is not good
to compare themselves to others.”

“To learn to forgive
by practicing forgiveness.”

“To learn that it only takes a few seconds
to open profound wounds in those they love,
and it can take many years to heal them.”

“To learn that a rich person
is not one who has the most,
but is one who needs the least.”

“To learn that there are people
who love them dearly,
but simply have not yet learned
how to express or show their feelings.”

“To learn that two people can
look at the same thing
and see it differently.”

“To learn that it is not enough that they
forgive one another, but they must also forgive themselves.”

“Thank you for your time,” I said humbly.

“Is there anything else
you would like your children to know?”

God smiled and said,

Just know that i am here, always”

-anonim-

From: http://www.theinterviewwithgod.com/popup-frame.html

Picture: www.gettyimages.com

Pintu

Sejak dulu, ada satu ruangan di rumahku.Tak ada satu pun yang berani masuk ke situ, termasuk aku. Berbeda dari ruangan lainnya, ruangan itu tidak terawat. Daun pintunya kusam. Kayu-kayunya berlubang dimakan rayap. Engselnya berkarat. Tak ada satu pun yang menarik dari ruangan itu. Selain sering kudengar suara-suara. Bisikan. Jeritan. Tangisan. Bahkan teriakan. Itu sebabnya, kupikir ruangan itu kerajaan hantu.

Baru belakangan ini aku tahu. Ruangan yang menjadi objek fantasiku itu keindahannya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ternyata.

***

Malam itu, kakiku gemetar. Sesuatu mendorongku melangkah ke sana tanpa bisa kucegah. Malam itu, ada suara lain selain bisikan, jeritan, tangisan, dan teriakan yang bertalu-talu.

Pelan-pelan, tangan kananku mendorong pelan pintu itu. Berat. Berderit. Berdebu. Aku melangkah masuk.

Ruangan itu gelap dan pengap. Hampir saja aku berbalik, ketika seseorang, dengan wajah yang tak kelihatan, memegang pundakku. ”Tak perlu takut, masuklah, ” katanya. ”Ini bagian dari rumahmu sendiri.”

Ada pintu lain di dalam ruangan itu. Ia membukanya. ”Hadiah istimewa yang kusiapkan untuk kamu setiap bersedia memasuki ruangan ini adalah pintu selanjutnya. Begitu seterusnya. Silakan”.

Aku tertegun. Dia membungkuk sekali lagi, dengan takzim. Merentangkan tangan kanannya isyarat masuk. Dari celah pintu yang terbuka, suara-suara terdengar semakin keras. Aku menggigil. Kali ini keringat dinginku mulai bercucuran. Jantungku berdegup dengan irama yang tak beraturan. Suara itu. Memanggilku. Menuntun langkahku. Membuka pintu selanjutnya. Pintu selanjutnya. Pintu selanjutnya. Keberanian membuka pintu itu selapis demi selapis mengikis ketakutanku, entah bagaimana caranya. Padahal suara yang terdengar makin keras. Makin jelas.

Dan…

Ada seorang perempuan terkulai lemah di sana. Sekujur tubuhnya penuh luka. Darah merembes dari setiap inci pori-porinya. Membentuk bopeng. Campuran antara nanah, darah, dan kulit mengering yang kembali terluka. Wajahnya bercucuran air mata.

Ia menangis atas luka yang tak diberi kesempatan untuk sembuh”, tiba-tiba saja seseorang yang tak nampak wajahnya itu berdiri di sampingku.

Kenapa ?”

Karena kamu mengabaikan dia sekian lama, sejumlah usiamu,”

Bagaimana bisa?

Kamu mendengarnya. Setiap kali ia bersuara. Tapi apa yang kamu lakukan. Bahkan sesungguhnya ia tak perlu berteriak, menjerit, dan meronta.?”

Aku menelan ludah. Mencari-cari kata yang pas. Tapi nihillah yang ada.

Mau tahu jawabnya? Karena kamu lebih sibuk dengan suara di luar sana. Karena kamu selalu menjadikan pikiranmu sebagai panglima

Bagaimana mungkin?,” aku menyergah.

Makhluk itu sontak mengerang, menggeliat kesakitan. Darah segar merembes dari kulitnya. Ia meraung panjang. Jatuh tersungkur. Debu-debu di lantai itu beterbangan. Napasnya semakin tersengal. Kini ia terbatuk-batuk, menangis, mengerang, panjang….

Itulah yang terjadi padanya setiap kali pertanyaan menjadi reaksi pertama. Berpikir. Bukan mendengar. Menganalisa. Bukan merasakan. Menolak. Bukan menerima

Perempuan itu mengerang lagi. Tangannya terulur, berusaha menggapai tanganku. Ia memaksa tubuhnya mendekati tubuhku. Memelukku. Hingga aku jatuh dan rebah ke tanah.  Pandangan kami pun bertemu. Mengunci mataku.

Pejamkan matamu”, orang yang wajahnya tak kelihatan itu kembali bersuara. ”Ijinkan apapun yang ia suarakan hadir pada dirimu. Ia terlalu menderita untuk setiap penyangkalan yang kamu lakukan, atas nama logika. Ia terlalu menderita untuk setiap cambuk, atas nama pembelajaran. Ia terlalu menderita untuk setiap luka, setiap kejujuran, demi menjadi seseorang yang kamu sebut… manusia”.

Untuk menjadi baik

Menjadi lebih baik

Selalu baik

Baik-baik saja

Untuk menjadi normal

Menjadi lebih normal

Selalu menjadi manusia ”normal”

Normal-normal saja

Untuk menjadi benar

Menjadi lebih benar

Selalu berjalan di jalan yang ”benar”

Untuk menjadi waras

Menjadi lebih waras

Selalu waras

Tetap dianggap ”waras”

Untuk menjadi pantas

Menjadi lebih pantas

Selalu pantas

….

….

….

Suara itu menyebutkan satu persatu. Terus menerus. Seperti tak habis-habis. Seolah ia membacanya dari kertas sepanjang gulungan tisu.

Napasku memburu. Aku menangis tersedu-sedu. Dan untuk pertama kalinya aku mengangguk. Aku menyerah. Pasrah.

Kubiarkan sejuta godam memukul kepalaku.

Kubiarkan tegangan listrik menyetrum tubuhku.

Kubiarkan dingin dan panas lebur jadi satu.

Kubiarkan air mataku mengalir, membanjir.

Kubiarkan nyeri itu kini merasukiku sampai sumsum.

Kubiarkan rasa tahu, inilah luka. Nyata.

Kubiarkan…

Sampai pada titik entah nyeri itu mulai luruh. Darah itu berhenti merembes. Luka itu mengering satu per satu… Tangan perempuan itu mulai menyambutku. Matanya mulai bercahaya. Ia memelukku penuh kasih.

Aku tak peduli tubuhnya masih penuh luka. Luka yang sama.

Aku tak peduli tubuhnya menguarkan anyir nanah. Nanah yang sama.

Kurapatkan pelukanku. Pelukan yang menjadikan kami satu. Pelukan yang kembali menyatukan kami. Darah yang sama. Tubuh yang sama. Jiwa yang sama. Raga yang sama.

Kubisikkan permohonanku di telinganya,

Maaf.. untuk segala luka yang timbul karena mengharuskanmu jadi seperti yang saya inginkan. Seperti yang dunia inginkan. Maaf untuk segala darah yang mengalir karena berpikir tahu yang terbaik bagimu. Maaf untuk nanah yang membusuk karena berpikir cinta adalah definisi, kriteria, syarat dan harap.

Untuk…tidak mendengarmu saat kamu mengaduh dan mengeluh. Untuk …lebih banyak mendengar suara di luar sana. Untuk sesuatu yang saya sendiri tidak selalu tahu apa, namun saya sembah melebihi pencipta dunia. Maafkan saya.”

Ia tak menjawab. Keheningan itu meresmikan tangisan kami berdua.

Detik pertama setelah sekian lama ia berbisik:

Terimakasih untuk hadir di sini. Terimakasih untuk bersedia mendengar. Terimakasih untuk menerima… apa adanya

Kunikmati pelukan itu. Sampai pada titik aku puas. Berangsur-angsur pelukan kami melepas. Aku mundur. Berjalan berbalik menuju pintu. Kututup dengan hati-hati. Lalu menuju pintu selanjutnya. Kututup lagi. Berjalan ke lapis terluar.

Kutoleh sekilas ruangan itu. Daun pintunya masih kusam. Kayu-kayunya masih berlubang sisa dimakan rayap. Tapi engsel pintu itu tak lagi berkarat.Tak terdengar pula jeritan, tangisan, dan teriakan. Hanya bisikannya:

Datanglah kapan pun.

Kapan pun kamu mau

Kapan pun kamu perlu

*) Hadiah untuk diri sendiri. Untuk cinta yang menemukan sendiri jalannya: semesta baru.

Slamet, kini turun ke jalan

Sebut saja laki-laki itu, Slamet. Perawakannya kecil, kulitnya sawo matang. Kuperhatikan, ada tiga benda selain pakaian yang selalu ia pakai ke mana-mana. Pertama peci. Kedua kaca mata hitam. Ketiga tas selempang. Kadang-kadang, ada juga benda keempat. Sebatang tongkat. Slamet bilang, keempat benda itu seperti sahabat. Yang meresmikan gelarnya sebagai tukang pijat.

Slamet tetanggaku. Rumah kami terpisah satu gang. Di kampung, namanya kondang sebagai pemijat panggilan. Konon,  pijatan Slamet lumayan enak.  Papaku pernah penasaran, dan ia setelah itu ia mengiyakan. Katanya, cengkeraman Slamet tepat ketemu urat. Tekanannya pas, tidak mengambang atau terlalu keras. Tapi ada juga yang bilang, itu kebetulan saja. Menurut beberapa tetangga, Slamet lebih sering ketiduran waktu menunaikan tugasnya. Dan membangunkan Slamet artinya upaya ekstra. Disenggol-senggol sering tidak mempan juga. Tetangga yang protes itu kapok untuk memanggilnya.

Jadi ingat, sekitar dua bulan yang lalu. Waktu itu aku pulang kerja. Sedang menunggu angkutan kota jurusan Pasar Minggu - Jagakarsa. Di dalam angkot yang aku berhentikan, ada Slamet. Dia duduk tenang, bersama empat sahabatnya. Peci. Tongkat. Tas selempang. Kaca mata hitam. Kulihat sekilas. Cuma ada satu ruang untuk penumpang. Dan itu di sebelah Slamet. Kuputuskan untuk naik. Lumayan ada teman pulang, satu jurusan.

Mulutku sudah hampir membuka. Tapi aku urung menyapa, begitu menyadari mulutnya dalam posisi setengah terbuka. Slamet tertidur, sedang pulas-pulasnya. Beberapa kali, kepalanya hampir tersandar di bahu kananku. Ia lalu tergagap dan menegakkan kepalanya buru-buru. Dan aku menghibur diri dengan maklum. Slamet mungkin sedang kecapekan. Aroma tubuhnya seperti orang yang habis kerja berat seharian. Campuran antara feromon, keringat kering yang asam, asap knalpot, dan debu berkepanjangan. Aku berpikir, mungkin dia sedang banyak orderan.

Kuceritakan pengalamanku bertemu Slamet, pada salah satu tetangga yang kapok memanggilnya. Pikiranku itu disanggah. Tetanggaku bilang, Slamet sering ketiduran bukan karena kecapekan. ”Tapi karena dia nggak bisa lihat cewek pakai rok span! Nggak bisa liat pemandangan-pemandangan! Nggak tau lagi di mana dan musti ngapain! Jadi mendingan tidur. Coba kalau dia bisa…,” katanya sambil tertawa. Aku tersenyum, sambil menelan ludah.

Apa iya?

Soal cewek pakai rok span aku percaya. Soal pemandangan mungkin juga. Tapi nggak tau lagi di mana dan musti ngapain, rasanya kok nggak. Soalnya, waktu kami bersama dalam satu angkutan kota kemarin itu, dia bisa bilang ”Kiri!!” sebelum supir memberi aba-aba. Dan aku yang malah ternganga. Dia terbangun tepat di tempat kami harus turun. Menyerahkan tiga lembar ribuan pada supir sambil berkata, ”Biasa.” Supir cerita, Slamet sekarang sering naik di sekitar Ampera. ”Berangkat siangan, pulang malam gitu dah…,” tambahnya.

Penasaranku tersimpan cukup lama. Hingga sore itu. Kusaksikan sosok laki-laki berbaju merah di kawasan Ampera. Dengan peci, kaca mata hitam, tas selempang, dan sebatang tongkat. Berjalan menyusuri antrian panjang. Mendekat setiap mobil yang merambat. Meraba-raba jendela dengan tangan kanannya. Dan menarikan kecrekan bekas tutup botol dengan tangan kirinya.

Dan ia pun sampai di jendelaku. Bersenandung entah apa. Yang terngiang di telingaku justru ucapannya berbulan-bulan lalu waktu memijat papaku,

Kadang-kadang, seminggu cuma dapat 50ribu.”

”Anak istri sering puasa karena nggak ada beras

Kutarik napas panjang untuk melegakan dadaku. Lima puluh meter ke depan, ada tiga Slamet lain di pinggir jalan. Mereka semua berkaca mata hitam. Mereka semua mengobrol –sesekali tertawa- sambil menatap lurus ke depan. Tak semua membawa tongkat, memang. Tapi mereka semua membawa kecrekan. **

Produk gagal, menang lomba! ;)

Berbekal niat ikutan Lomba Kreasi Resep Bekal Sehat (Nakita-Tupperware, September 2009), pinginnya sih bikin lampu lalu lintas dari… nugget. Bahannya standar, pewarnanya tinggal pakai bayam merah untuk warna merah, wortel untuk warna kuning, dan bayam hijau untuk warnai hijau.

Errr… terpikir sih, untuk pakai bit merah n daun suji yang udah kondang jadi pewarna makanan itu. Tapi masalahnya gini, saya pingin bisa make bahan yang relatif murah en gampang didapat. Tujuannya, supaya resep ini aplikatif, bisa dipraktikin sama siapa aja yang mau. Sementara dari survei kecil-kecilan yg saya lakukan ke beberapa supermarket, bit merah kok nggak selalu tersedia ya. Lagipula harganya lumayan mahal. Setidaknya, di kantong saya :P
Begitulah, kenapa saya utamain pake bayam merah sama bayam ijo yang biasa kita jadiin sayur bening itu…

Singkat cerita,  adonan mentah nugget tiga warna sudah jadi. Merah, kuning, dan hijau. Warnanya pas, sesuai yang saya mau. Jadi dengan penuh rasa percaya diri, saya menutup kukusan dan meninggalkannya sambil senyum-senyum…

Tapi saat saya kembali…

Nugget yang saya bayangin bakalan jadi tiga warna sesuai adonan mentahnya itu, ternyata  jauh banget dari bayangan. Merahnya jadi kuning kusam. Ijonya jadi.. mirip daun yang udah busuk. Jelek banget. Dan yang perlu digaris bawahi, kalo dipaksain jadi  lampu lalu lintas pasti bakal bikin kekacauan di jalan, kan? :P
AB, Penasihat pribadi saya *peace, AB ;) * berusaha membesarkan hati  dengan saran, “Kalo gitu, judulnya tinggal diganti TIdak Tertib Lalu Lintas aja…”

Huh, saya menanggapinya sambil cemberut.

Selama beberapa menit, saya membuang waktu duduk di meja makan sambil memandangi nugget-nugget gagal itu. Pandangan nanar.

“Rasanya udah pas. Warna kuningnya udah pas. Tinggal merah sama ijonya aja nih…,” gumam saya sambil mikir, sekaligus penasaran.

Semenit.

Dua menit.

Nggak terasa tangan saya bergerak mengepal-ngepal nugget-nugget kuning -yang warnanya paling sesuai harapan- itu jadi bulatan-bulatan.

Di saat yang sama, saya melihat selada dan tomat, sisa lalap makan malam yang belum sempat saya bersekan. Tangan saya terus bergerak. Dan segalanya seperti ikut bergerak. Saya bongkar lemari es, lalu menemukan tusuk sate dan buncis. Tangan saya bergerak lagi.  Merebus buncis. Merangkai nugget kuning, selada, tomat, dan buncis dalam tusuk sate.  Ternyata… kok jadinya mirip bunga ya?????

Uhuyyyy!!

saya bersorak gembira. Ternyata lampu lalu lintas bisa berubah jadi bunga!

*Hihihihi… berhubung foto makanan jadi salah satu aspek yang dinilai, langsung deh ambil kamera dan nyoba motret sebisanya*

Taraaaaaa… dan  ini hasilnya!

(Special thanks buat AB, Ronggo (yang udah ngajarin trik motret), TRD (trik pake kertas putih untuk menstabilkan cahaya), n tentunya Irwan Zam Zam beserta kembaran kecilnya, Velma. Berkat bantuan kalian, resep “gagal” saya ini jadi dikirim dan…. MENANG!) :D
*****

Bungaku Yummy…!!!

Trik mudah bagi si sulit makan sayur. Idenya dari nugget, namun dimodifikasi dengan tambahan susu, wortel, dan keju, serta dibentuk menjadi tampilan menarik. Mirip jajanan khas anak sekolah, camilan ini juga bisa dinikmati bersama saus atau mayonais.

Karena dikemas dalam wadah warna-warni, dijamin si kecil akan membawanya ke sekolah penuh semangat. Ibu pun senang, karena bekal sehat ini lezat, serta gampang dibuat!

Kalau ingin lebih praktis, buat adonannya di akhir pekan. Masukkan dalam wadah, kemudian simpan dalam freezer. Di pagi hari, adonan beku tersebut tinggal dikukus sekitar 15 menit. Selamat menyiapkan bekal sehat!

Resep:

(Untuk 1 porsi)

Bahan:

100 g daging ayam giling

2 sdm tepung terigu

2 sdm susu bubuk plain (sesuaikan dengan kesukaan anak)

1 butir telur, kocok

2 siung bawang putih, haluskan

20 g bawang bombay, cincang halus

75 g wortel*, parut

50 g keju cheddar, parut kasar

½ sdt garam

¼ sdt merica bubuk

1 sdm minyak goreng, untuk mengoles wadah

Pelengkap:

10 buah tusuk sate, buang bagian yang runcing

5 buah buncis, buang pinggirnya, blansir, potong dua.

1 buah tomat, iris tipis

3 lembar daun selada, sobek sesuai selera

Cara membuat:

  1. Dalam mangkuk, masukkan semua bahan. Aduk sampai rata.
  2. Olesi wadah (pinggan tahan panas, wadah aluminium, atau loyang bentuk kotak ukuran kecil) dengan minyak goreng. Sementara itu, panaskan panci kukus.
  3. Masukkan adonan ke dalam wadah. Kukus sekitar 15 menit.
  4. Setelah matang, angkat, dinginkan.
  5. Potong dengan ketebalan 1,5 atau 2 cm. Cetak bentuk bintang menggunakan cetakan biskuit. Kumpulkan sisa cetakan, kepal-kepal menjadi bulatan berdiameter 3 cm (Bisa juga dibentuk sesuai selera menggunakan peralatan yang ada). Sisihkan.
  6. Membuat bunga:

Masukkan tusuk sate ke sepanjang badan buncis (sebagai batang). Di atasnya, tusukkan daun selada (sebagai daun), kemudian irisan tomat (sebagai kelopak).

Di urutan paling atas, tusukkan nugget bintang atau bulat. Tata di dalam wadah bekal.

TIP:

* wortel bisa diganti sayuran lain. Gunakan bit jika menginginkan warna merah, atau bayam hijau dengan tambahan daun suji untuk warna hijau.

(Resep, foto: Dyah Pratitasari).

:’(

Tidak ada hal lain yang ingin kulakukan saat ini

kecuali

membenamkan diri

dalam pelukanmu,

Mama…