Sekitar dua puluh tiga tahun yang lalu.
Waktu itu, saya masih TK. Dan Bu Yuni*, guru saya, sedang bercerita di depan kelas. Sambil terus mendongeng, ia menggambar di papan tulis hitam. Di satu sisinya, digambarkan seorang manusia, kecil ukurannya. ”Ini kita,” katanya. Dan di ujung satunya lagi, ia menggambar semacam taman. Lengkap dengan ayunan, jungkat-jungkit, kolam ikan, aneka makanan, bunga warna-warni, dan pepohonan yang buahnya, kata Bu Yuni, boleh dipetik sesuka hati.
Membentang menghubungkan kedua ujung itu, ia goreskan satu garis lurus panjang. Sebuah jembatan. ”Tapi jembatan ini beda dengan yang kita lewati sehari-hari, ”sambung Bu Yuni lagi.Yang ini dibuat dari satu helai rambut. Tepat di bawah garis yang Bu Yuni sebut jembatan tadi, dengan kapur merah, digambarnya jilatan-jilatan api.
Menurut Bu Yuni, kalau ingin sampai ke surga, kita harus bisa menyeberang jembatan. Saya dan beberapa teman berpandang-pandangan sejenak, lalu menelisik rambut sendiri. ”Cuma satu? kalau jatuh, langsung terbakar api? Wuiihh….”, pertanyaan yang menyembul di kepala itu cepat-cepat saya telan kembali, sambil bergidik ngeri.
Saya lupa siapa yang bertanya, atau mungkin malah tak ada, namun Bu Yuni bilang bahwa kami pasti bisa sampai ke surga, asal jadi anak yang baik. ”Tidak boleh bo…ho..ngggg, tidak boleh mencu…riiiii, menurut sama orang tu…aaaa…, rajin berdo…aaaaa…..”, begitulah kira-kira Bu Yuni, menyebutkan beberapa daftar kriteria anak baik, yang akan berhasil meniti jembatan tanpa terjungkal ke jurang api, karena dituntun oleh tangan Yang Maha Baik Hati.
Bernama Tuhan.
***
Seingat saya, itulah penjelasan mengenai Tuhan yang saya terima pertama kali, secara deskriptif. Tanpa bermaksud mendiskriditkan Bu Yuni, sejak saat itu pula, tanpa disadari otak saya mulai didiami pemahaman bahwa, ”Kalau ingin ditolong Tuhan dan masuk surga, saya harus jadi orang baik.”
Entah berapa lamanya, saya menjalani hari demi hari, berusaha memenuhi syarat -yang disebutkan Bu Yuni dan diamini oleh ibu-ibu serta bapak-bapak lain- tadi. Hingga tanpa saya sadari, perjalanan saya ingin menjadi ”orang baik dan ditolong Tuhan” tadi memasuki sebuah ranah. Wilayah. Yang segera disandangkan pada saya secara otomatis, lantaran lahir dari kedua orangtua yang tinggal di tempat yang sama. Bernama agama.
Selain tidak berbohong, tidak mencuri, menurut sama orangtua dan rajin berdoa, dalam pelajaran agama di sekolah dan les bertitel ibadah di sekitar rumah, syarat itu seolah-olah bertambah banyak. Hingga tanpa saya sadari (lagi), Tuhan dan agama bagi saya pun menjadi sesuatu yang absurd.
Meskipun begitu, saya memilih meneruskan perjalanan. Atas nama iman.
Dan seiring perjalanan, keabsurdan itu menguap, menjelma rutinitas serupa makan, minum, mandi, dan gosok gigi. Berjalan otomatis serupa malam dijelang pagi. Setiap hari. Selama ribuan hari.
Sampai suatu hari, di sebuah ruangan yang disebut rumah Tuhan, saya mendengar seorang bocah bertanya pada ibunya, ”Kenapa sih Ma, harus shalat?”. Dan ibunya menjawab dengan, ”Kalau nggak, Tuhan marah. Nanti kamu dimasukin ke neraka.”
Dug!
Tiba-tiba saja saya terjungkal. Langkah kecil saya dalam perjalanan itu terhenti.
”Kalau nggak, Tuhan marah”
”Kalau nggak, Tuhan marah”
”Kalau nggak, Tuhan marah”
Jawaban singkat Si Mama yang diucapkan datar itu membuat ingatan lama saya, tentang tergelincir dari jembatan yang terbuat dari sehelai rambut -lalu terjun bebas ke jurang api, menari-nari.
…
Saya menelan ludah. Pahit. Pertanyaan serupa pernah juga saya ajukan di masa lalu, pada beberapa orang yang disebut guru. Jawaban yang saya terima sama. Kalaupun berbeda, versinya serupa, ”Kalau tidak, kamu dosa”. Atau, ”Nanti dihukum dengan neraka”. Mempertanyakan aturan yang disebut kebenaran, akan dianggap tidak beriman. Mendebatnya berarti mengundang prahara. Dan mencoba melanggarnya, segera terbayang lagi dua kata. Dosa. Neraka.
Mengapa ibadah, yang katanya sarana untuk dekat dengan Tuhan, dalam kalimat semacam itu jadi terdengar seperti paksaan?
Dan disinilah, titik itu bermula. Titik yang menyembulkan satu pertanyaan besar: Ibadah kok dipaksa-paksa. Sebenarnya yang butuh itu siapa sih? Tuhan, atau manusia?
Kasihan Tuhan, pikir saya. Ia jadi tampak jauh, terasing, dan sulit didekati. Lebih dari itu, ia kok jadi.. terkesan gila disembah?
*Dear ‘Han… maaf kalau saya lancang*
Namun sejujurnya, momen itu membuat saya memberanikan diri meninjau kembali konsep yang entah sejak kapan saya percayai. Tanpa mengecilkan arti iman –yang artinya ketetapan hati atau keteguhan batin*-, saya bertanya-tanya. Ketika saya berbuat ”baik” selama ini, itu karena memang ingin, atau…. mengejar pahala? Demi secarik tiket ke surga? Pun, ketika saya terpaksa berbuat baik, demi mengikuti syarat-syarat yang dipercaya sebagai kebenaran, namun hati ini meronta, masihkah surga menjadi jaminannya? Jadi, selama ini saya ”beribadah” dengan intensitas melebihi aturan minum obat dalam sehari, untuk alasan apa? Karena cinta, atau… takut?
Melintas kembali ingatan saya di masa lalu. Beruntungnya, kedua orangtua saya mengajarkan ritual beragama dengan cara yang damai dan cukup berkompromi. Kelas satu SD, saya “hanya” diwajibkan shalat satu waktu. Kelas dua, naik jadi dua kali. Hingga hitungan shalat wajib mengutuh di kelas lima. Puasa pun menjadi hal yang menyenangkan, karena Mama (alm) pintar memberi reward yang asyik-asyik kalau saya sukses melakukannya hingga azan maghrib tiba. Misalnya, boleh beli buku lebih banyak dari jatah, dijemput ke sekolah, atau dibuatkan makanan kesukaan. Meskipun sempat merasakan puasa untuk mendapat hadiah, lambat laun saya tahu juga kalau hadiah tadi bukan tujuan. Melainkan, sebuah penghargaan karena atas usaha saya berpuasa. Saya berkesimpulan demikian, karena ketika saya sakit dan kekeuh berpuasa, meskipun akhirnya tidak kuat, saya tetap mendapat hadiah. Sebaliknya, hadiah saya pernah gugur, karena saya mengaku puasa penuh padahal Mama tahu saya mencuri-curi meneguk air es sepulang sekolah. :p
Sekali waktu, saya nekat mengajukan pertanyaan pada Mama, ”Kenapa sih harus shalat?”. Mama terkejut. Bahasa tubuhnya menunjukkan ia tak siap dengan jawaban. Namun yang saya ingat, Mama menjawabnya dengan, ”Supaya Mbak Ita bisa ketemu Tuhan.”
Saya bertanya lagi, ”Apa Tuhan cuma bisa ditemui kalo kita shalat sama berdoa?”. Mama bilang, ”Nggak juga. Tapi dengan shalat dan berdoa, Mbak Ita punya kesempatan untuk ngobrol sepuas-puasnya, cerita apa aja, minta apa-aja, berduaan. Sama Tuhan.”
Sungguh jawaban yang berbeda dengan orang kebanyakan.
Pada awalnya, saya menganggap Mama menjawab begitu karena keterbatasan ilmunya. Merasa tak puas, saya penasaran, dan tertantang, ”Seperti apa sih, ngobrol sama Tuhan? Memangnya Mama udah ngerasain? Wah, aku juga mau ah!”
Dan Mama mengijinkan saya memulai dengan banyak cara.
…
Dalam perjalanan saya saat ini, di titik belum seberapa yang saya pijak sekarang ini, saya terdiam. Terkenang. Menerawang. Bagi saya pribadi, pendekatan ”Tuhan” yang mengancam justru membuat saya ingin berontak dan melepaskan diri. Justru ketika dipercaya berproses secara alami, kok ternyata… saya merasakan “perjalanan” yang lebih indah. Konsep yang lebih bersahabat. Relasi yang menentramkan. Dan saya mulai kecanduan.
…
Tanpa bermaksud mengecilkan Bu Yuni dan “Bu Yuni-Bu Yuni” lain (saya yakin itu hanya cara yang tanpa disadari, sudah menjadi “tradisi”, diam-diam saya bermimpi,
Alangkah indahnya bila sejak dini, anak-anak di luar sana diperkenalkan dengan Tuhan yang siap memeluknya kapan saja. Ada kapan saja. Dan mereka diajak lebih peka membaca tanda semesta, mengenai kehadiranNya. Bukan gambaran tentang jilatan lidah api.
Alangkah indahnya kalau perkenalan dengan Tuhan itu dibuka dengan semacam lowongan. Kesempatan. Yang ditawarkan dengan ajakan. Bukan doktrin ancaman.
Alangkah indahnya bila hubungan Tuhan dan Manusia yang (katanya) bukanlah Tuan dan Hamba – melainkan kekasih- itu benar-benar menunjukkan otentisitasnya. Ibadah yang dilandasi cinta.
Cinta yang tidak terdefinisi. Cinta yang kebenarannya tidak diusung sebagai milik umum. Cinta yang tidak hanya bersumber dari pengetahuan. Cinta yang murni diperoleh dari perjalanan. Pengalaman pribadi.
Ah, tiba-tiba tubuh saya berdesir teringat Vel, malaikat centil saya, yang sedang senang-senangnya melantunkan doa sebelum tidur (bahkan dia pun ngotot membacanya sebelum makan dan sebelum minum! Hehehe..). Dia bertanya ”Kenapa mau bobo harus doa?”. Setelah sebisa mungkin menyingkirkan sejenak kosakata ”dosa” dan ”neraka”, kalimat ini adalah jawabannya: ”Sama seperti ade bilang I Love You dan cium Mama sebelum bobo, itu cara ade bilang sayang sama Tuhan juga sebelum bobo…”
Saya tidak tahu jawaban itu tepat atau tidak. Saya hanya sedang berusaha memperkenalkan konsep Tuhan sebagai ”sosok” yang damai dan penuh kasih sayang. Bukan Tuhan yang senang menghukum dan hanya sayang pada sebagian orang.
Deg-degan juga rasanya, mengingat dia mungkin juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya duga, di luar pengetahuan saya. Kelak, ketiba tiba waktunya Vel bertanya,”Apa Tuhan cuma bisa ditemui kalo kita shalat sama berdoa?”.
Semoga saya pun cukup legawa untuk menjawabnya dengan, ”TENTU SAJA TIDAK. Dia bisa kamu jumpai kapan saja, dimana saja, apa pun caranya. Sebagai muslim, shalat dan berdoa adalah salah satu kesempatan istimewa kita untuk berduaan sama Tuhan, curhat sepuas-puasnya, cerita apa aja, protes apa aja, minta apa-aja, nggak perlu ada rahasia.
Dan keistimewaan itu, menjadi lebih istimewa kalau kita bisa memaknai, memahami, menghargai, dan meresapi setiap kesempatan lain. Bahkan, yang tidak diistimewakan sekalipun. “
Semoga :)
…
(Karena) Pengetahuan itu mati. Pengalamanlah yang hidup (Osho).
PS. Terimakasih buat AB, yang turut menginspirasi ditulisnya entry ini.
***
* Guru sebenarnya, namun bukan nama sebenarnya.
**Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Balai Pustaka. 1988